GLOBALBUSINESS.ID, Jakarta – Langkah pembenahan perusahaan negara terus memasuki fase yang lebih terukur. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong penataan BUMN Karya dengan pendekatan yang berbasis kondisi riil perusahaan.
Fokus tersebut terlihat dari agenda pembenahan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA dan PT PP (Persero) Tbk. Kedua perusahaan konstruksi negara itu mendapat perhatian dalam agenda transformasi yang dipimpin Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria.
Pendekatan Danantara menempatkan kondisi keuangan sebagai fondasi utama. Data perusahaan harus menggambarkan posisi yang sebenarnya. Dengan begitu, manajemen dapat menentukan solusi secara tepat dan terukur.
Restrukturisasi BUMN Karya Berbasis Kondisi Riil
Dalam pembahasan bersama jajaran direksi WIKA, Dony menekankan pentingnya akurasi laporan keuangan. Ia meminta perusahaan menggunakan angka yang sesuai dengan kondisi aktual.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam Restrukturisasi BUMN Karya. Perusahaan perlu mengetahui secara pasti kewajiban yang harus diselesaikan. Manajemen juga harus menghitung kemampuan pembayaran secara realistis.
“Kita yang realistis aja, gak mau yang akal-akalan,” ujar Dony, seperti dikutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.
Menurut Dony, pemetaan kondisi nyata akan menentukan bentuk solusi yang paling sesuai. Restrukturisasi tidak cukup hanya memperbaiki tampilan laporan keuangan. Proses tersebut harus menghasilkan perbaikan fundamental.
WIKA juga memiliki peluang untuk mengoptimalkan sejumlah aset. Divestasi aset yang tepat dapat membantu perusahaan memperoleh likuiditas. Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengurangi beban kewajiban.
Strategi ini memberi ruang bagi WIKA untuk memperbaiki struktur keuangan. Perusahaan juga dapat kembali memperkuat bisnis yang memiliki prospek jangka panjang.
Langkah serupa juga berjalan di PT PP. Pada 19 Agustus 2026, Dony bertemu dengan jajaran direksi PT PP untuk membahas agenda transformasi perusahaan.
Dalam pertemuan tersebut, merger menjadi salah satu agenda utama. Danantara mendorong proses merger berjalan lebih intensif dan tuntas.
Dony menilai merger dapat menjadi tahapan awal sebelum restrukturisasi. Penggabungan usaha dapat memperkuat skala bisnis. Selain itu, merger berpotensi menciptakan efisiensi melalui konsolidasi sumber daya dan kompetensi.
“Kita merger-in aja. Kita harus tahu berapa yang harus di-absorb, berapa yang perlu dikoreksi di buku,” kata Dony.
Setelah merger, PT PP akan melanjutkan proses restrukturisasi. Penataan tersebut mencakup kondisi keuangan, struktur bisnis, hingga fokus pada lini usaha utama.
Strategi itu sejalan dengan kebutuhan BUMN Karya untuk memiliki struktur yang lebih ramping. Perusahaan juga perlu mengurangi aktivitas yang kurang memberikan nilai tambah.
Bagi Danantara, restrukturisasi bukan sekadar penyelesaian kewajiban. Proses tersebut harus menghasilkan perusahaan dengan fundamental yang lebih sehat.
Karena itu, penataan laporan keuangan menjadi langkah awal. Setelah itu, perusahaan dapat menentukan kebutuhan pendanaan, strategi aset, dan struktur bisnis secara lebih presisi.
Merger juga dapat menciptakan skala ekonomi yang lebih besar. Konsolidasi kapasitas dan kompetensi memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi operasional. Pada saat yang sama, perusahaan dapat memperkuat daya saing dalam proyek konstruksi dan infrastruktur.
Pendekatan tersebut menunjukkan arah baru dalam pembenahan BUMN Karya. Danantara mendorong setiap perusahaan menghadapi kondisi bisnis secara terbuka. Tidak ada ruang bagi solusi yang hanya memperbaiki angka secara administratif.
WIKA dan PT PP menjadi bagian dari agenda lebih luas untuk memperkuat perusahaan negara. Penataan dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan bisnis, kondisi keuangan, serta prospek pertumbuhan.
Pada akhirnya, keberhasilan restrukturisasi akan terlihat dari kemampuan perusahaan menciptakan kinerja yang lebih sehat. Beban kewajiban harus turun. Efisiensi harus meningkat. Bisnis inti juga harus mampu menghasilkan nilai tambah.
Dengan pendekatan tersebut, Danantara berupaya memastikan transformasi BUMN Karya berjalan secara menyeluruh. Bukan sekadar menyelesaikan masalah jangka pendek, tetapi membangun fondasi perusahaan yang lebih kuat, efisien, dan berkelanjutan. []














