GLOBALBUSINESS.ID, Jakarta – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mulai memperlihatkan pemulihan setelah melewati tekanan finansial dan operasional. Hingga semester I 2026, pendapatan perseroan mencapai US$1,8 miliar. Angka tersebut tumbuh 16 persen secara tahunan.
Kinerja operasional juga menunjukkan perbaikan. EBIT mencapai US$74 juta. EBITDA tercatat US$431,6 juta. Rugi bersih turun 23,2 persen menjadi US$113 juta.
Jumlah armada juga meningkat. Hingga Juni 2026, Garuda mengoperasikan 104 pesawat. Reaktivasi armada membuka kapasitas penerbangan dan peluang pendapatan baru.
Penerbangan berjadwal masih menjadi sumber utama pendapatan. Segmen ini menghasilkan sekitar US$1,31 miliar. Sementara itu, penerbangan tidak berjadwal tumbuh 32,5 persen menjadi US$272,8 juta.
Bisnis haji turut memberi kontribusi. Pendapatannya mencapai sekitar US$232,2 juta. Angka tersebut meningkat 51,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja Garuda Indonesia Didorong Pemulihan Armada dan Restrukturisasi
Garuda memperoleh dukungan modal dari Danantara pada akhir 2025. Nilainya mencapai sekitar Rp23,67 triliun. Dana tersebut membantu perseroan menjalankan pemulihan dan restrukturisasi.
Namun, tekanan biaya masih menjadi tantangan. Beban avtur mencapai US$677,6 juta hingga semester I 2026. Angka itu meningkat 43,6 persen secara tahunan.
Pada kuartal II, kenaikan beban avtur bahkan mendekati 90 persen. Porsinya terhadap pendapatan mencapai sekitar 37,7 persen. Kondisi ini menunjukkan tingginya sensitivitas bisnis maskapai terhadap harga energi.
Garuda tidak dapat mengendalikan harga minyak global. Karena itu, perseroan perlu memperkuat efisiensi, utilisasi armada, pengelolaan rute, dan strategi pendapatan.
Di sisi lain, bisnis perawatan pesawat melalui PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk atau GMFI mencatat pertumbuhan kuat. Pendapatan GMFI mencapai US$270,29 juta pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 51 persen secara tahunan.
EBITDA GMFI meningkat 39 persen menjadi US$34,82 juta. Laba yang menjadi bagian pemegang saham induk mencapai US$10,81 juta. Ekuitas GMFI juga berbalik positif menjadi US$144,62 juta.
Pertumbuhan GMFI memperkuat perannya dalam strategi penyehatan Garuda. Bisnis MRO dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi grup.
Garuda juga menyiapkan PMHMETD III atau rights issue. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 124,35 miliar saham baru. Danantara Asset Management akan mengambil bagian melalui setoran modal non-tunai.
Setoran tersebut berupa saham GMFI senilai Rp5,66 triliun. Transaksi ini bertujuan memperkuat modal dan menata kepemilikan dalam ekosistem Garuda Indonesia Group.
Rencana tersebut masih membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB pada 6 November 2026. Perseroan juga menunggu pernyataan efektif dari OJK.
Tahap berikutnya menjadi ujian penting bagi Garuda. Perusahaan tidak cukup hanya memulihkan armada dan meningkatkan pendapatan. Garuda harus mengubah pemulihan menjadi laba dan arus kas yang konsisten.
Per 30 Juni 2026, ekuitas konsolidasian masih negatif US$52,15 juta. Total liabilitas mencapai sekitar US$7,43 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan struktur keuangan masih membutuhkan perhatian.
Arus kas operasi memberi sinyal positif. Garuda mencatat arus kas operasi sekitar US$253,1 juta. Namun, perusahaan tetap menghadapi kebutuhan besar untuk perawatan pesawat, sewa, utang, bahan bakar, dan modal kerja.
Karena itu, pertumbuhan pendapatan harus berjalan bersama peningkatan margin. Pengendalian biaya juga perlu menjadi prioritas.
Garuda kini memasuki fase baru. Fokus perusahaan bergeser dari sekadar bertahan menuju penciptaan laba berkelanjutan.
Armada yang kembali terbang harus menghasilkan utilisasi optimal. Rute penerbangan perlu memberikan kontribusi ekonomi yang jelas. Bisnis haji, charter, kargo, MRO, dan pendapatan tambahan dapat memperkuat diversifikasi.
Semester I 2026 memberikan sejumlah sinyal positif. Pendapatan tumbuh, EBIT kembali positif, rugi bersih menyusut, dan armada bertambah.
Namun, harga avtur, utang, ekuitas negatif, serta dinamika industri tetap menjadi pekerjaan rumah. Keberhasilan transformasi Garuda akan terlihat dari kemampuan menghasilkan laba dan arus kas secara konsisten.
Dengan demikian, pemulihan Garuda belum mencapai garis akhir. Perseroan masih perlu membuktikan bahwa tambahan modal dan restrukturisasi mampu menghasilkan bisnis yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. []














