GLOBALBUSINESS.ID, Jakarta – Laba PT Timah (PT Timah Tbk/TINS) mencatat lonjakan signifikan sepanjang Semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun, meningkat 804,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut bahkan melampaui target laba bersih perusahaan untuk sepanjang 2026 yang dipatok sebesar Rp1,61 triliun.
Kinerja impresif itu didorong oleh kombinasi kenaikan harga timah dunia, peningkatan volume produksi, serta pertumbuhan penjualan logam timah di pasar domestik maupun ekspor. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, PT Timah membukukan pendapatan sebesar Rp10,42 triliun, melonjak 247 persen dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai Rp4,22 triliun.
Pertumbuhan pendapatan ikut mendorong peningkatan laba usaha menjadi Rp3,48 triliun dari Rp380 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, EBITDA naik 363 persen menjadi Rp3,90 triliun, mencerminkan efisiensi operasional dan peningkatan produktivitas perusahaan.
Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, mengatakan hasil tersebut menunjukkan strategi transformasi operasional dan bisnis berjalan sesuai harapan. Menurutnya, peningkatan produktivitas, pengendalian biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan kinerja perusahaan.
Laba PT Timah Ditopang Produksi dan Harga Timah Global
Pertumbuhan Laba PT Timah juga tercermin pada kinerja operasional. Hingga Semester I 2026, produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi logam timah meningkat 58 persen menjadi 10.865 metrik ton Sn, sedangkan penjualan logam timah melonjak 85 persen menjadi 10.984 metrik ton.
Peningkatan tersebut berasal dari optimalisasi tambang laut dan darat, termasuk pengoperasian Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta penguatan kemitraan pada tambang darat.
Dari sisi pasar, harga timah dunia turut memberikan kontribusi besar terhadap kinerja perseroan. Rata-rata harga timah di London Metal Exchange (LME) sepanjang Semester I 2026 mencapai USD50.319,19 per metrik ton, naik sekitar 56,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, data CRU Tin Monitor menunjukkan pasar timah global masih mengalami defisit pasokan. Produksi logam timah dunia tercatat sebesar 173.536 ton, sedangkan konsumsi mencapai 179.256 ton. Kondisi tersebut menjaga harga timah tetap berada pada level yang menguntungkan bagi produsen.
Kinerja keuangan PT Timah juga semakin kuat. Total aset perseroan meningkat 21 persen menjadi Rp16,45 triliun, sedangkan ekuitas naik 25 persen menjadi Rp10,55 triliun hingga akhir Semester I 2026.
Perseroan juga membukukan margin laba operasi sebesar 33,24 persen, EBITDA margin 37,39 persen, serta margin laba bersih mencapai 26,05 persen. Tingkat pengembalian aset (ROA) tercatat 16,50 persen, sementara return on equity (ROE) mencapai 25,74 persen.
Ke depan, PT Timah optimistis mempertahankan tren positif seiring meningkatnya permintaan timah dari industri elektronik, semikonduktor, kendaraan listrik, pusat data, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI).
Saat ini, perusahaan memiliki sumber daya timah sebesar 798 ribu ton dan cadangan mencapai 312 ribu ton. Penjualan logam timah juga masih didominasi pasar ekspor dengan kontribusi sekitar 97 persen, terutama ke China, India, Korea Selatan, Singapura, Belanda, dan Italia. []















