,

“Potensi Perikanan Sangat Besar, Tapi Seberapa Besar Kemampuan Kita?”

by
perikanan
perikanan

Wawancara Direktur Utama PT Perikanan Nusantara (Persero) – Dendi Anggi Gumilang

PT Perikanan Nusantara (Perinus) semakin menunjukan tren kinerja positif dari tahun ke tahun. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran Dendi Anggi Gumilang sebagai Direktur Utama yang dianggap berhasil membangun kepercayaan diri SDM serta memecahkan masalah klasik perusahaan. Salah satunya yaitu persoalan birokrasi yang menjadi khas Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Berikut petikan wawancara Global Business dengan sang nahkoda utama PT Perikanan Nusantara (Persero).

Bagaimana Bapak menilai Potret industri perikanan nasional?
Indonesia merupakan negara maritim dimana hampir 70% wilayahnya adalah laut dan sisanya terdiri dari daratan. Dengan fakta tersebut seharusnya pendapatan Indonesia yang terbesar bersumber dari laut. Namun pada kenyataanya berbeda. Dimana bertahun-tahun sektor maritim tidak mengalami kemajuan, sehingga Presiden Joko Widodo di awal menjabat bertekad untuk menjadikan laut Indonesia sebagai poros maritim. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar menjadi poros maritim dunia. Poros maritim merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektifitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut serta fokus pada keamanan maritim.

Artinya presiden melihat ini sebagai potensi dan tentunya sebagai tantangan. Sehingga sejalan dengan hal itu pemerintah harus tegas secara regulasi terkait dengan potensi tersebut. Dan hal ini ternyata in line dengan kebijakan Ibu Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan-red) dimana beliau membatasi asing untuk menangkap ikan. Dimana di masa lalu kapal asing hampir menguasai laut Indonesia, sekarang dengan adanya moratorium sudah tidak terlihat lagi. Tentu ada plus dan minusnya, tapi itulah sebuah kebijakan.

Sekarang bagaimana industri dalam negeri mampu memanfaatkan potensi yang lebih besar atas kebijakan moratorium tersebut, termasuk peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perinus melihat ini adalah sebuah peluang besar. Sebagai agent of development kita bisa memiliki peran yang lebih aktif lagi sehingga keberadaan BUMN Perinus menjadi salah satu brand yang “icon” dalam industri perikanan.

Jika pada sektor lain, batubara, misalnya! banyak pemain terkenal yang sangat “icon” pada sektor ini, sebut saja Adaro, Bukit Asam, dsb. Jika bicara properti ada Agung Podomoro, Sinarmas, dsb. Jika bicara industri perikanan? Kita tidak bisa menyebutkan siapa pemainnya. Tentu hal ini sangat ironis, dimana sektor perikanan justru memiliki sumber daya yang begitu besar dibandingkan batubara, properti, minyak dan sawit. Apakah ada pengusaha terkenal di Indonesia yang bermain di industri perikanan? Yang ada hanya pengusaha terkenal di Indonesia yang terkenal akrab bermain di sektor properti, energi, perkebunan, dsb.

Namun perlahan kita terus menangkap dan memanfaatkan sejumlah peluang besar yang ada sehingga kita bisa menunjukan kepada masyarakat bahwa Indonesia memiliki pemain di sektor Perikanan yaitu PT Perikanan Nusantara.

Terkait moratorium, apakah ini menguntungkan bagi Perinus?
Secara kebijakan domestik adanya moratorium tentunya sangat menguntungkan, karena kita merupakan pemain tunggal di dalam negeri. Jika ada kompetitor asing tentu kita belum tentu bisa bersaing khususnya dari sisi teknologi. Persoalannya tinggal bagaimana kita memanfaatkan hal ini.

Apakah seluruh kebijakan yang dikeluarkan KKP seluruhnya menguntungkan bagi Perinus?
Sebagai BUMN, Perinus adalah think tank partner. Apakah kebijakan itu selalu tepat? belum tepat. Kemudian apakah kebijakan tersebut perlu disempurnakan? Tentu kebijakan perlu disempurnakan. Apakah ada industri yang terkena dampak dari kebijakan? Tentunya ada. Oleh sebab itu, kami hadir sebagai think tank partner atas persoalan tersebut. Meskipun tidak dipungkiri Perinus pun terkena dampak atas kebijakan tersebut. Contoh, apabila biasanya Perinus menjual ke industri dengan mendapat keuntungan besar, namun di kemudian hari tidak bisa menyuplai/menjual lagi lantaran pabriknya ditutup. Secara tidak langsung ini merupakan kerugian bagi Perinus.

Meskipun demikian, dari kebijakan tersebut masih banyak lagi hal-hal yang menguntungkan. Oleh karena itu mari kita menggarap keuntungan dari kebijakan tersebut sebanyak-banyaknya dibanding memikirkan dampak kerugiannya. Kalau kita bicara kerugian terus, ya kita tidak akan bisa bekerja.

Terlebih saat ini Kementerian KKP telah merilis Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di sektor kelautan dan perikanan dimana ditargetkan pada 2019 mencapai Rp600 Triliun. Berapakah yang bisa digarap Perinus? Apakah hanya 1%? Apakah 5% bahkan hanya 10% saja? Berapapun prosentasenya kesempatan itu sangat terbuka lebar, tergantung kemampuan kita. Bahkan 10 kali lipat Perinus pun tidak akan habis laut kita.

Adakah persoalan lain yang dirasakan Perinus yang seharusnya segera dibenahi oleh pemerintah untuk mendorong kemajuan industri perikanan?
Cost logistik! Ini tentu sudah menjadi issue penting bagi pemerintah karena hampir seluruh sektor industri memiliki kendala pada logistik. Perinus paling banyak mengangkut ikan dari Timur ke Barat, dan itu membutuhkan ongkos logistik yang tinggi. Sehingga harga ikan menjadi sangat tinggi ketika ikan sampai di pulau Jawa.

Dengan demikian pemerintah perlu membuat sebuah terobosan terkait sistem logistik perikanan nasional tersebut. Apakah kebijakan standar angkutan kapal, dsb. Karena ini yang menjadi salah satu bottle neck dari inti persoalan industri perikanan nasional. Kami percaya pemerintah akan segera menyelesaikan persoalan ini. Dengan adanya konsep tol laut yang digagas pemerintah adalah salah satu terobosan dalam memecahkan persoalan tersebut.

Kegiatan bisnis Perinus meliputi apa saja?
Perinus memiliki kegiatan utama penangkapan ikan dan pengolahan ikan. Kami memiliki 11 cabang yang tersebar di Indonesia dari Sabang sampai Sorong. Di seluruh cabang tersebut kami memiliki unit-unit pengolahan ikan seperti processing, penangkapan, pabrik es batu dan Dok Kapal. Perinus memiliki dermaga pelabuhan sendiri untuk bongkar muat ikan dengan izin Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS).

Bagaimana Investasi yang dibangun serta langkah revitalisasi yang dilakukan?
Tahun lalu kami baru saja menyelesaikan revitalisasi seluruh fasilitas-fasilitas Perinus. Jadi alat produksi yang sudah tua-tua sudah kami ganti dengan alat produksi yang lebih modern melalui pendanaan dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp200 Miliar. Jadi kalau kita mengunjungi kantor-kantor cabang Perinus seluruh alat produksi sudah baru-baru semua, mulai processing nya, cold storage nya, dsb.

Kemudian kapasitasnya kita perbesar. Karena saat ini Perinus sudah mulai melakukan pembelian ikan cukup banyak membutuhkan kapasitas yang lebih besar.

Untuk tahun ini kami melakukan investasi dengan menambah alat produksi yaitu kapal. Saat ini kami memiliki 14 kapal, tetapi yang layak beroperasi hanya separuhnya saja. Untuk penambahannya tahun ini juga yang bekerjasama dengan KSO sudah mencapai 30 unit Kapal. Jadi secara total jumlah kapal operasi Perinus mencapai 37 Kapal.

Artinya tahun 2018 dan 2019 Perinus tinggal memetik hasil?
Artinya kami memiliki target bisnis yang lebih tinggi. Sebagai contoh tahun 2016 pendapatan Perinus hanya Rp110 Miliar, kemudian naik menjadi Rp 500 Miliar di tahun 2017 dengan volume produksi ikan mencapai 22 ribu ton. Untuk tahun 2018 ini pendapatan ditargetkan mencapai Rp1.1 Triliun. Dengan infrastruktur yang sudah kami benahi dan penambahan alat produksi kami optimis mampu mencapai target tersebut. Sebagai informasi, sampai dengan periode Mei 2018 pendapatan Perinus sudah mencapai Rp460 Miliar.

Bicara market, Bagaimana pangsa pasar Perinus?
Untuk saat ini Perinus banyak melakukan kegiatan ekspor ke Jepang. Kita punya kontrak dengan Jepang untuk supply Gurita dengan nilai kontrak mencapai Rp60 Miliar ditahun 2017 dan naik menjadi Rp80 Miliar di tahun 2018. Kami fokuskan untuk pengelolaan Gurita di cabang Makassar.

Selain itu, kita tengah fokus untuk Tuna. Sama ke Jepang juga, walaupun volumenya masih kecil. Karena harus diakui sumber untuk Tuna saat ini agak sulit, selain dibutuhkan juga kapal yang besar. Tapi kita mulai dapat source yang bagus untuk Tuna. Saya targetkan di semester II/2018 ini punya kontrak Tuna yang cukup besar dengan FTI Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.