Asuransi Asei Siap Take Off Menjadi Pemain Besar Asuransi Keuangan

by
Asuransi Asei

Asuransi Asei / PT Asuransi Asei Indonesia yang membidik perolehan premi sebesar Rp500 miliar di tahun ini, sampai dengan kuartal I/2019 telah berhasil memperoleh 27% dari target tersebut atau mencapai lebih dari Rp100 miliar. Dengan struktur keuangan yang jauh lebih kuat serta kekuatan manajemen yang lebih solid, pasca kehadiran dua wajah baru pada kursi board of director, Asuransi Asei diproyeksikan akan take off tumbuh menjadi pemain besar di sektor asuransi keuangan.

Dua wajah baru tersebut yaitu Eko Supriyanto Hadi sebagai Direktur Utama, dan Erikson Mangungsong sebagai Direktur Teknik dan Marketing. Kehadirannya dianggap sebagai pemicu semangat baru bagi manajemen untuk meraih target kinerja yang jauh lebih baik di tahun ini bahkan mampu melampauinya. Keduanya bersepakat bahwa dengan adanya komitmen dari pemegang saham, menjadikan kepercayaan diri untuk mengimplementasikan strategi bisnis dalam rangka mengembalikan kejayaan perusahaan kembali kepada level bisnis yang jauh lebih baik dan kompetitif.

Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia, Eko Supriyanto Hadi menegaskan bahwa Asuransi Asei dipastikan akan menjadi pemain besar pada sektor asuransi keuangan. Tahun ini, imbuhnya Asuransi Asei memasuki fase penyehatan bisnis, tahun 2020 dijadikan sebagai fase ekspansi bisnis dan di tahun 2021 Asuransi Asei dipastikan akan take off menjadi pemain besar sekaligus market leader pada bisnis asuransi keuangan.

“Terlebih jika sudah tergabung menjadi holding BUMN, maka struktur keuangan akan jauh semakin kuat sehingga kami sangat optimis mampu menjadi pemain besar pada bisnis asuransi keuangan,” papar Eko yang ditetapkan sebagai nahkoda utama Asuransi Asei sejak 8 Februari 2019 lalu.

Potret Bisnis Asuransi Asei

Tahun ini bisnis asuransi sangat challenging penuh tantangan, dimana yang pertama adalah seluruh pasar bisnis dihadapi oleh situasi pasca pemilu yang tentunya berpengaruh terhadap tertekanannya perekonomian. Selain itu, Asuransi Asei, imbuh Eko, melihat sejumlah peluang yang belum di explore dan digarap dengan baik, salah satunya yaitu pada asuransi penjaminan dan kredit untuk berbagai proyek-proyek infrastruktur yang masih sangat massif pembangunannya.

“Untuk menggerakan roda perekonomian tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit berupa kredit. Oleh karena itu kami hadir siap memproteksi penjaminan atas kredit tersebut,” ujar pria kelahiran Jakarta 1966 tersebut.

Selain itu, pria yang juga aktif sebagai pengurus bidang keuangan AAUI tersebut mengaku ketika masuk pertama kali di perusahaan ini melihat sejumlah potensi besar yang dimiliki oleh Asuransi Asei salah satunya yaitu produknya yang sangat lengkap. Selain itu, lanjut Eko, Asuransi Asei saat ini lebih mengutamakan selective growth dengan mengedepankan penjaminan asuransi yang jauh lebih berkualitas.

“Meskipun beberapa tahun lalu mengalami penurunan kinerja, namun dengan strategi bisnis yang perlahan diimplementasikan dengan baik maka kami yakin Asuransi Asei akan tumbuh jauh lebih baik ke depan. Terbukti, di tahun ini sampai dengan kuartal I/2019 kami sudah memperoleh premi lebih dari Rp100 miliar atau 27% dari target premi akhir tahun yaitu Rp500 miliar,” ungkap Eko.

Lima Strategi Asuransi Asei

Lebih lanjut Eko memaparkan bahwa Asuransi Asei akan mengimplementasikan 5 strategi bisnis ke depan, antara lain yang pertama adalah cost restructure atau efisiensi. Eko mencontohkan akan melakukan realokasi kantor-kantor cabang.

“Bukan pemutusan cabang, melainkan melakukan optimalisasi kantor-kantor cabang yang dianggap memiliki potensi yang lebih baik untuk didorong dengan menambah porsi bisnis yang lebih baik juga. Cost restructure dalam hal ini tentunya pemangkasan biaya-biaya yang dianggap tidak perlu!,” ujar Eko.

Strategi yang kedua adalah optimalisasi bisnis. Menurut pria yang juga aktif sebagai staf pengajar di perbanas tersebut, Asuransi Asei optimalisasi bisnis dalam hal ini adalah menjangkau pangsa pasar yang jauh lebih prospektif sehingga lebih tepat sasaran. Dalam hal ini, Asuransi Asei akan mengedepankan sinergitas dengan sejumlah pihak, antara lain adalah perbankan dan tentunya kerjasama dalam sinergi BUMN.

“Dengan BUMN banyak sekali yang akan bisa digarap. Sebut saja dengan BUMN-BUMN karya yang saat ini memegang porsi besar dalam proyek-proyek infrastruktur pemerintah maupun swasta. Selain itu juga sektor perdagangan, perkembunan dan tambang yang kami kira prospeknya sangat bagus. Dengan demikian kami berharap dapat melesatkan perolehan premi dan menambah porsi bisnis yang lebih baik ke depannya,” pungkas Eko.

Strategi ketiga yang akan diterapkan Asuransi Asei adalah melakukan restructure administration. Salah satu contohnya adalah memperbaiki dan meningkatkan pelayanan berbasis teknologi dan digitalisasi. Untuk mempercepat proses bisnis dalam rangka kepuasan pelanggan Asuransi Asei saat ini tengah menyiapkan automatic underwriting. Inovasi tersebut akan menekan pengeluaran yang cukup signifikan, sebab pekerjaan rutin bisa diselesaikan secara otomatis oleh sistem.

Strategi keempat adalah penguatan permodalan, dimana ini menjadi bagian penting bagi keberlangsungan bisnis perusahaan. Dari perusahaan induk (PT Indonesia re) sendiri sudah siap menggelontorkan dana mencapai ratusan miliar kepada Asuransi Asei sebagai bentuk penguatan strukturisasi permodalan. Sehingga dalam menjalankan bisnisnya perusahaan dapat melaju dengan cepat mengimplementasikan seluruh strategi bisnis dalam rangka mendongkrak kinerja yang jauh lebih baik.

“Terlebih jika nantinya penguatan permodalan akan turun setelah terbentuknya holding bumn asuransi, maka akan semakin kuat kami menapaki bisnis ke depan dan sangat optimis menjadi pemain besar pasar asuransi keuangan,” ujar Eko.

Strategi kelima yaitu penguatan pada human capital. Dalam hal ini, Asuransi Asei akan senantiasa meningkatkan kapasitas di sektor SDM dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik. Hal tersebut tentunya sangat sejalan dengan salah satu misi Asuransi Asei yaitu berkomitmen tinggi dalam memberikan pelayanan prima serta bernilai tambah pada stakeholder melalui inovasi produk dan pengembangan teknologi informasi yang berkesinambungan.

“Kemudahan dan kecepatan merupakan kunci di era digital saat ini. Oleh karenanya penetrasi teknologi juga kami terapkan pada sisi human capital,” tutup Eko yang juga aktif sebagai pengurus Forum Komunikasi Investasi (FKI) BUMN. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.