273 TAHUN POS INDONESIA: “Pos Indonesia Butuh Peran Nyata Pemerintah”

by
273 TAHUN POS INDONESIA

Di seluruh dunia, industri pos dipenuhi oleh 192 operator yang menjadi anggota Universal Postal Union (UPU). Dalam perjalanannya, sebagian besar perusahaan pos global bertransformasi seiring perubahan zaman dan perkembangan teknologi. Perusahaan pertama yang dinilai berhasil bertransformasi yaitu Deutsche Post di Jerman. Pada tahun 2000, bermodalkan bantuan pemerintah Jerman, Deutsche Post mengakuisisi perusahaan logistik DHL. Perusahaan mengembangkan model bisnis DHL hingga akhirnya bertaraf internasional.

Lain halnya dengan perusahaan pos di Jepang yang mengatasi disrupsi industri pos dengan mengubah model bisnis menjadi ‘bank tabungan’. Perusahaan memberi lisensi perbankan kepada 24.500 kantor cabang hingga akhirnya menjadi consumer banking terbesar di dunia. Alhasil, hampir semua warga menggunakan kantor pos untuk menabung.

Di Korea Selatan, Australia, dan Malaysia, perusahaan pos memperoleh bantuan yang besar dari pemerintahan masing-masing agar bisa bertransformasi dan tak tergerus perubahan zaman.

Sementara itu di Indonesia sendiri, Pos Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang masih bertahan di tengah disrupsi teknologi, meskipun pada kenyataannya belum bantuan yang optimal dari pemerintah.

Sesuai dengan Pasal 51 Undang-undang Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos disebutkan, pemerintah perlu melakukan penyehatan terhadap PT Pos Indonesia (Persero), sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), untuk menghadapi akses pembukaan pasar global.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah ‘dianjurkan’ mengintervensi proses penyehatan Pos Indonesia. Namun faktanya, sejak 2009 saat aturan terbit sampai saat ini belum ada langkah konkret yang dilakukan pemerintah.

Pos Indonesia Bantah Pailit

Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Gilarsi W. Setijono menjelaskan bahwa sebagai anggota UPU, perusahaan memikul tugas sebagai layanan pos universal. Dengan bantuan dana operasional dari pemerintah sebesar Rp345 miliar pada 2018 lalu, perusahaan mengelola kantor pos di daerah terpencil yang berjumlah 2.446 cabang.

Dalam prosesnya, perusahaan diminta oleh pemerintah melayani masyarakat dengan tarif yang sesuai ketentuan pemerintah sejak 2013. Penentuan tarif yang lebih rendah dari biaya operasional menimbulkan terjadi selisih biaya yang harus ditanggung perusahaan. Padahal jasa pengiriman tersebut banyak dipakai oleh para perusahaan perdagangan elektronik (e-commerce) yang tengah menjamur.

Perkembangan industri e-commerce pada akhirnya justru dianggap menjadi duri dalam daging Pos Indonesia. Pasalnya, semakin besar jumlah aktivitas pos e-commerce, maka selisih biaya yang harus ditanggung perseroan juga akan semakin membengkak.

Isu di berbagai pemberitaan media massa kemudian berkembang semakin liar, bahwa Pos Indonesia berpotensi bangkrut dan pailit. Menanggapi hal itu, Gilarsi menegaskan perusahaan jauh dari kondisi pailit.

“Kami jauh dari kata pailit. Kami masih bisa menyelesaikan kewajiban dengan baik. Pinjaman uang ke bank memang dibutuhkan setiap perusahaan sebagai modal kerja,” tegas Gilarsi.

Menurut Gilarsi, perusahaan sedang berupaya keras untuk bertranformasi di tengah disrupsi model bisnis dan teknologi saat ini. Perbaikan model bisnis dan teknologi dilakukan tentu tanpa menghilangkan tujuan dasar pendirian usaha.

Pada dasarnya, perusahaan BUMN memiliki visi dan misi untuk mendorong aktivitas ekonomi dan menghasilkan keuntungan. Dalam konteks ini, Pos Indonesia tak bisa selincah perusahaan swasta dalam bertransformasi.

Pos Indonesia bisa saja mengubah model bisnis seperti perusahaan rintisan (startup), yakni dengan mereduksi biaya tetap, investasi asset dan karyawan demi memperoleh keuntungan bombastis. Namun, sebagai perusahaan milik negara, Pos Indonesia juga dituntut peka terhadap kesejahteraan karyawan.

“Hal itu membuat perusahaan tak mudah bertransformasi dengan cara instan,” ujar Gilarsi.

Pada akhirnya, langkah solutif yang paling tepat dilakukan adalah berbenah diri dengan mendorong anak usaha untuk bergerak lebih lincah, sembari menunggu langkah konkrit pemerintah melakukan penyehatan kinerja terhadap perseroan.

Saat ini, papar Gilarsi, Pos Indonesia memiliki tiga anak usaha yaitu Pos Logistik, Pos Finansial, dan Pos Properti.

“Tiga anak usaha ini relatih lebih kecil dan lebih lincah. Perusahaan tidak harus mengikuti kewajiban-kewajiban yang harus dipikul oleh induk. Anak usaha bisa bertransformasi dengan cepat,” pungkas Gilarsi.

Khusus di lini bisnis finansial, lanjut Gilarsi, perusahaan mengalami disrupsi ganda, baik disrupsi regulasi maupun disrupsi teknologi. Terkait teknologi, disrupsi terjadi mulai dari perkembangan teknologi perbankan hingga kemunculan teknologi finansial (fintech).

“Kami menyadari, model bisnis yang digunakan pada lini jasa keuangan merupakan sunset industry,” tutup Gilarsi. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.